MUASAL
Dilahirkan oleh ibunda tercinta dengan perjuangan di antara hidup dan mati pada pagi hari yang cerah Senin pon 11 Juli 1983. (Namun di Akte kelahiranku terulis tanggal 5 Mei 1983, begitupun yang tertulis di ijazah SD sampai SMA. Lucunya aku baru mengetahui kalo kelahiranku yang sebenarnya yaitu tanggal 11 Juli pada saat SMP kelas 2 ketika secara tidak sengaja aku menbuka Diary milik Bapakku. Tapi kenapa di Akte dan ijazah tertulis tanggal 5 Mei? Sampai sekarang Aku pun tak tahu. Dan tak mau tahu.)
Alhamdulillah, Allah SWT masih memberi kesempatan pada ku untuk menghirup udara pada saat itu hingga kini. Dan sang Ibu yang sangat aku cintai pun selamat. Aku merupakan anak ke 2 dari 5 bersaudara dari pasangan suami istri yang harmonis, hidup selalu dalam kasih sayang dan penuh pengertian.
Masa kanak-kanak hingga remaja aku habiskan di tanah kelahiran. Indramayu. Kota Mangga. Di mana rata-rata penduduknya sebagian besar hidup sebagai petani (dan TKI). Begitu juga dengan orang tuaku, mereka bener-bener the real farmer. Mereka hidup dari bertani dan sangat menyukai pekerjaannnya, hingga bisa membiayai pendidikanku sampai selesai SMA walaupun sering tersendat.
Tak jarang pula orang Indramayu yang aku temui di luar Indramayu malu mengakui bahwa dirinya berasal dari Indramayu. Entah mengapa sebabnya. Apa karena terlalu banyak cap negatif tentang Indramayu? Aku ga mau tahu.
Aku tumbuh sebagai anak yang manis (cie..), pendiam, penurut dan mungkin sedikit introvert. Keluargaku bener-bener sangat ketat dalam hal mengawasi pergaulan. Karena memang pergaulan di lingkungan tempatku tinggal sedikit kurang sehat. Wal hasil aku hanya mempunyai beberapa orang teman yang ‘senasib’.
Setelah melewati 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP serta 3 tahun lagi di SMA, yang semuanya di Indramayu, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kuliah di daerah tetangga. Cirebon. Kota Udang. Namun ternyata bangku kuliahan tak seindah yang ku bayangkan. Di mataku (saat itu), menjadi seorang mahasiswa sungguh membosankan. kerjaannya Cuma 6 D yaitu Datang, Duduk, Diam, Dengarkan, Demo dan Demenen (pacaran).Hingga pada suatu hari aku sudah muak dengan keadaan seperti itu. Akhirnya.. I’m out.Aku putuskan untuk berhenti kuliah dan mencoba mencari pekerjaan. Pikirku kuliah bisa dilakukan kapan saja, di samping itu aku tidak mau menambah beban orang tua yang lagi-lagi harus membiayai pendidikanku.
Setelah hampir sebulan bersusah payah akhirnya pekerjaanpun ku dapatkan. Salah satu perusahaan di indramayu tengah membutuhkan beberapa karyawan yang kualifikasinya sesuai denganku.
Aku benar-bener menikmati pekerjaanku. Hingga 6 bulan kemudian aku berada di titik jenuh. Bosan. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk kesenangan. Aku bermunajat agar bias mendapatkan pengalaman baru, ilmu baru dan lingkungan baru. Dan pastinya kehidupan baru yang lebih baik dari sekedar seorang data entry. Dan Tuhan manjawab doaku.
Dua bulan kemudian, di Pagi yang sunyi, telepon di di kantorku berdering. Suara di seberang sana mengajaku untuk berkarya di Jakarta. Jakarta? Itu tantang bagiku.
Dan hingga sekarang aku masih tetap di Jakarta. Tempat dimana yang aku anggap surga walaupun terkadang menjadi neraka.
aku adalah gembala yang tek pernah lelah mengenal wanita ……
aku…. adalah gemabala yang sellau saj atak pernah bercintaaaaaaaaaaa.a………
tolongYang , menjadi makhluk dio dalam hdupku ini adalah makhluk yang tak tau malu dan takkan pernah bisa mencapai apa-apa dari apa yang selam inn i aku lakukanHerbaliseme metodologi
